Senin, 14 Februari 2011

Putus nyambung

malam semakin larut aku sendiri tiada kasih yang menemani dalam hidup oni ,teruskah ku berlari mencari jejak langkah yang kita jalani tanpa dirimu ,siapakah nanti yang bermain didalam hatiku, Sepintas lalu lirik lagu ini popiler lagu nike aedila al marhum,kalao aku analisis setidaknya menggambarkan keadan jalan cinta /seorang yang putus asa ,artinya pitus yambung putus nyambung ,terkadang seseotang akan mengalami putus asa itu wajar dan hukumnya pasti ,akhirnya jadi salah tingkah setelah usaha di jalankan namun nihil ujung-ujung nya PUTUSASA ,dalam nilai_nilai agama islam Sifat Putus Asa sangat tidak diperbolehkan,WAla taiasa mirrohillah, Inalloha maa ana, jangan lah berputus asa karena rahmat Allah ,Sesungguhnya Allah bersama kita.Ini merupakan sinyalemen bahwa dalam hidup ini harus Tawakal ( usaha,sabar,dan Doa ) baru pasrah total ketika semua sudah dilakukan kita tinggal melaksanakan saja ,Naabi saja juga tawakal dalam mengajak umatnya untuk mentaati perintah Allah.Apa lagi kita harus dapat mengikutinya.

Kamis, 10 Februari 2011

wraiting

asalamualaikum waroh matulohi wabaro katu
bergadang jangan bergadang kalo tiada artinya ............bergadang boleh saja aaaaaaaaaaaa asal ada niat baiknya teng-teng .................
Tahu kan kawan lagu ini milik bang haji Oma sang raja dang dut indonesia ,agaknya lagu ini sangat populer sekali dan memesarakat di indonesia.
namun yang perlu dicermati ialah .lirik lagu ini hakikatnya memberi nasihat bagi seluruh warga indonesia .Bergadang boleh tp harus tau waktu ,terkadang seseorang lupa waktu ketika bergadang ,main remi,catur ,dan lainya sampai waktu larut bahkan sampe masuk waktu subuh akhirnya keburu ngantuk jadi sububnya bersamaan dengan DHUHA ini sering terjadidi kalangan orang indonesia khususnya para pemuda .
Apa sih bergadang tu sepintas lalu kal jawa bilang jagak melek ,melek sampe padng (melek hingga siang).sebenarnya sih boleh kok tapi jangan ofer waktunya bangun malah tidur ,waktunya kerja malah tidur akibat rasa ngantuk setelah bergadang .
Tetapi kalao untuk tirakat /prihatin boleh lah heeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee. ada komen ta k tunggu.

Minggu, 30 Januari 2011

Jama'ah Dzikrul Ghofilin

Satu kajian dan bahasan yang menarik untuk di telaah terkait dengan jamaah ini, pasti terpersik dengan pendirinya K.H.Hamim Jazuli Ploso /yang terkenal dengan nama Gus miek,Walaupun dulunya jamiiyah ini mendapat respon keras dari yai Mahrus Aliy(kubu yang mewakilikitabkuning) lirboyo,namun jamaah ini dapat memberikan sumbang sig terhadap dakwah di jawa timur,bagusnya jamiiyyah ini terdiri dari berbagi latar belakang ada dari santri ,kaun abangan ,begenggek,tukang becak masih banyak lagi ,namun justru dari jamiiyah ini dapat memberikan wasilah hidayah pada mereka yang dirasakan ,kaum atau golongan ini belum tersentuh dakwah ,selain itu sebagai alternatif bagi pengikut terekat karena pada saat itu terjadi persaingan antara pengikut tarikat ,sehinnga gus miek tergugah untuk memecahkan halini ,kini jamiyah ini berkembang hingga sekarang dan diasauh oleh putra beliau Gus Sabut baik di daerah kediri,jember,jogja ,Tulungagung .

Jumat, 14 Januari 2011

ngobrol malem

Bergadang jangan bergadang bila tiada artinya bergadang bolehsaja aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa ,kalo ada perlunya ,kalo sering kena aangin malam segala penyakit akan mudah datang ,mka itu sahyagi badan jangan bergadang setiap malam ...........?
Tak asing lagi kan kawan syaiir nan merdua yang dilantunkan bang haji Roma irama yakan merdu memang ,ini sekaligus nasihat dan himbauaan .Fenomena di mayarakat sekarang ini mulai menjamur bergadang sampek suntuk ini kalo ada perlu tak masalah kalodak ya emat donggggg ,kebanyakan bermain REMI ,dan lainya sebagainya dengan dalih sebagai JAGAK LEK ( jaga tidur )sampek larut Apakah dak Waleh melihat Kartu tiap hari ,katanya sebagai hiburan ,Jika mau berfikir lebih panjang lebih afdhol membaca bukubelajar ,mengaji ataupun lain sebaginyayang sifatnya Positif Yaaaaaa kan .
Belum lagi imbasnya bangun bangkong ,mata kelihatan sayup ,ngantuk dan lain sebagainya meninggalkan sholat subuh belum yang lain lagi,Fenomena ini jadi Menjam,mur dimasyarakat ,Tua muda sama saja,
Apa dakboleh boleh.....................? itu kan hak seorang kan yang penting tidak berbau Perjudian yang melibatkan Uaaaaaaaaaaang setujukan
,
Ya kawan ini sekedar ngobrol ada ada respon masukan ditubngggu in yaaaaaaaa.

Selasa, 28 Desember 2010

Kendala Dalam Proses Pers

Makalah Kuliah Managemen Pers Dakwah
Mahasiswa Semester VII /IAIT Tribakti Kediri
Minggu, 05 Desember 2010


“Tidak ada satu pun yang dapat mematikan kemauan untuk bekerja lebih hebat daripada merenungkan seluruh pekerjaan itu ketika kita melakukannya dalam situasi yang sulit dan di bawah tekanan.(Eric Maisel)
SEJAK UU No 40/1999 tentang Pers dan Kode Etik dimunculkan, kebebasan pers di Tanah Air kian terasakan. Terutama jika mencermati bunyi Pasal 9 Ayat (1): “Setiap warga negara Indonesia dan negara berhak mendirikan perusahaan pers.” Implikasi dari pasal tersebut, direspon oleh Menpen Yunus Yosfiah (waktu itu) untuk membebaskan perusahaan pers dari SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers).
Dampak paling nyata dari kebebasan pers ialah munculnya penerbitan koran, majalah, dan tabloid baru. Baik yang bersifat populer maupun serius, sama-sama memiliki keinginan untuk terbit dan eksis. Oleh karena itu, dari segi kuantitas jumlah media di Indonesia makin beragam dan variatif. Hal itu juga terasakan di ranah kampus melalui penerbitan majalah dan jurnal ilmiah, baik yang dikelola dosen maupun mahasiswa.

Namun, kemunculan penerbitan yang beragam dan variatif itu ternyata tidak otomatis mampu mendongkrak kualitas penerbitan. Ada kalanya sebuah penerbitan di edisi awal dilakukan dengan kerja keras. Di sisi lain, ada pula penerbitan yang mengalami gulung tikar alias bangkrut. Untuk itulah, dalam konteks saat ini para pengelola penerbitan harus segera berbenah diri guna meningkatkan mutu penerbitan medianya masing-masing.
Ada argumen, sukses-tidaknya penerbitan amat bergantung dari jumlah iklan yang termuat. Argumen lain justru mengatakan, bergantung dari tinggi-rendahnya mutu SDM. Jika boleh berpendapat, keduanya amat benar. Artinya, baik iklan maupun SDM sama-sama penting untuk diperhatikan sekaligus ditingkatkan. Dengan demikian, paling tidak ada tiga faktor yang perlu diulas kaitannya dengan manajemen penerbitan pers.
Ketiga faktor tersebut ialah redaksi, perusahaan, dan sirkulasi. Ketiganya memegang peran dalam kerja-kerja penerbitan media secara profesional. Jika ketiganya berperan tidak optimal, kelak mutu penerbitan akan kurang bagus. Selain itu, kinerja pengelola tidak akan berjalan sebagaimana mestinya. Untuk itulah, ketiganya perlu terus dibenahi. Mudahnya kita istilahkan dengan departemen editorial, usaha/advertensi, dan sirkulasi.
Departemen Editorial
Departemen ini memiliki fungsi, yaitu mengumpulkan berita atau bahan tulisan lain berupa opini, gambar, data, dsb. Singkatnya, menyinggung soal kerja para wartawan dan redaktur surat kabar. Jika merujuk UU No 40/1999, khususnya Bab I, kita akan ketahui bahwa wartawan ialah “orang yang secara teratur melaksanakan kegiatan jurnalistik.”
Adapun kegiatan jurnalistik, jika merujuk lagi dari UU No 40/1999, khususnya Bab I ialah “…meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia.”
Dalam UU No 40/1999, Bab III Pasal 7 Ayat (1) dan (2), kita bisa mengetahui sosok wartawan yang sesungguhnya. Bahwa wartawan itu, “bebas memilih organisasi wartawan”, dan “memiliki dan menaati Kode Etik Jurnalistik.” Adapun Kode Etik Jurnalistik yang dimaksud ialah kode etik yang disepakati organisasi wartawan dan ditetapkan oleh Dewan Pers. Ada dua bentuk yang dikenal selama ini, yaitu Kode Etik Wartawan Indonesia (KEWI) dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ).
Di samping itu, sesuai bunyi Pasal 8 UU No 40/1999, bahwa profesi “wartawan dalam pelaksanaan tugasnya sehari-hari mendapat perlindungan hukum.” Adapun “perlindungan hukum” ialah jaminan perlindungan Pemerintah dan atau masyarakat kepada wartawan dalam melaksanakan fungsi, hak, kewajiban, dan peranannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dengan begitu, dalam menjalankan tugasnya wartawan akan merasa aman dan nyaman.
Lazimnya, departemen ini dipimpin oleh seorang pemimpin redaksi (disingkat Pemred). Tanggung jawab pemimpin ini sangat dominan. Jabatan ini biasanya diduduki oleh wartawan senior yang mampu bertanggung jawab atas pelaksanaan redaksional dan wajib melayani hak jawab dan koreksi. Secara hukum, posisi pemred akan bisa leluasa jika harus memindahkan pertanggungjawabannya kepada anggota redaksi dan pihak lainnya.
Berikut ini susunan departemen editorial.
SKEMA DEPARTEMEN EDITORIAL
Pemimpin Redaksi
Wakil Pemimpin Redaksi
Redaktur Pelaksana
Redaktur Halaman/Desk

Reporter – Koresponden – Pembantu Tetap/Lepas - Fotografer

Departemen Mekanik
Departemen ini bertugas membantu departemen editorial. Berita dan bahan tulisan lain dikirimkan ke komputer operator dan diserahkan ke bagian percetakan. Tugas percetakan ialah menggandakan semua bahan yang sudah diramu dan diracik bagian redaksi dan tata letak. Departemen ini dipimpin oleh pemimpin percetakan. Oleh karena itu, pemimpin bagian ini kudu paham mengenai jenis kertas, tinta, film, plate, dan sebagainya.
Departemen Usaha
Guna menjalankan kedua departemen di atas, maka (1) halaman iklan harus dijual ke publik/umum, (2) pembeli harus dicari dan dikejar, (3) koran dan majalah harus dikelola secara profesional, dan oleh karenanya ini merupakan tugas dari departemen usaha. Departemen ini memiliki fungsi utama, yaitu mengatur bisnis penerbitan, pemasaran, dan pengelolaan keuangan. Bila dikelola baik, kelak departemen justru akan mendukung dua departemen sebelumnya.
Dalam UU No 40/1999, khususnya Bab II Pasal 3 Ayat (2), “pers nasional dapat berfungsi sebagai lembaga ekonomi.” Maksudnya, perusahaan pers dikelola sesuai dengan prinsip ekonomi, agar kualitas dan kesejahteraan para wartawan dan karyawannya semakin meningkat dengan tidak meninggalkan kewajiban sosialnya. Dengan begitu, profesionalisme pengelolaan keuangan menjadi suatu tuntutan yang harus dilaksanakan oleh tiap-tiap perusahaan pers.
Selain Pasal 3 Ayat (2), pers nasional juga diharapkan sesuai Pasal 10, yaitu “…memberikan kesejahteraan kepada wartawan dan karyawan pers dalam bentuk kepemilikan saham dan atau pembagian laba bersih serta bentuk kesejahteraan lainnya.” Adapun maksud “bentuk kesejahteraan lainnya” ialah peningkatan gaji, bonus, dan lain-lain. Pemberian tersebut dilaksanakan berdasarkan kesepakatan antara manajemen perusahaan dengan wartawan dan karyawan pers.
Departemen Sirkulasi
Departemen ini bertujuan untuk mendistribusikan media (koran, majalah, tabloid, dsb) kepada pembaca secara ajeg (kontinu) dan area yang telah ditentukan. Bisa dibayangkan bagaimana kondisi penerbitan media/pers tanpa pembaca, tentu tidak akan berjalan secara optimal. Untuk itulah, penanganan yang bisa dilakukan ialah pembentukan biro-biro penerbitan di tiap-tiap daerah kabupaten/kotamadya.
Misalnya, harian Jawa Pos yang sudah memiliki beberapa biro daerah (Radar Jogja, Radar Solo, Radar Kediri, Radar Surabaya dsb). Demikian pula dengan harian Republika dan Kompas. Kedua media massa nasional itu juga memiliki biro daerah, di antaranya Biro DI Yogyakarta dan Biro Semarang. Diharapkan, dengan didirikannya biro tersebut akan memudahkan sirkulasi media ke pembaca, atau dari penerbitan pusat (Jakarta) ke daerah-daerah lainnya.


Kendala Penerbitan Media Berbasis Kampus/Lembaga Pendidikan
Menurut Suroso (2003), ada beberapa kendala dalam pengelolaan penerbitan media kampus. Di antaranya, yang menyangkut (a) SDM, (b) pendanaan, dan (c) sirkulasi. Guna menyiasatinya, pengelola penerbitan media kampus harus bisa memilih jenis majalah/jurnal yang sesuai dengan pasar pembaca. Tentu saja, pembaca yang dibidik ialah pembaca yang sesuai dengan visi dan misi yang telah disepakati.
Beberapa kendala tersebut di antaranya ialah:
1. Belum terciptanya deskripsi kerja berdasarkan tugas keredaksian, usaha, dan sirkulasi. Pembiayaan penerbitan media biasanya dari dana kampus, para pengelola bertugas secara serabutan (bisa kerja di manapun), dan waktu penerbitan yang tidak ajeg (kontinu).
2. Topik-topik yang dipilih kurang menarik dan tampilan fisik media juga kurang bagus. Hal itu disebabkan oleh minimnya dana dan terbatasnya pengetahuan para pengelola (misalnya, penyunting, penata grafis, dan tata letak).
3. Kurangnya pasokan naskah yang akan diterbitkan. Hal ini bisa disiasati dengan memesan naskah ke pakar/ahli, mengadakan bank naskah, baik yang asli maupun terjemahan, atau “memaksa” redaktur untuk menulis.
4. Terbatasnya ruang sirkulasi dan kurang diminati oleh para pembaca. Hal ini bisa diatasi dengan mengubah orientasi penyajian topik-topik non-kampus sehingga pihak lain akan dapat menerimanya.
Catatan Penutup
Setelah mencermati hal di atas, kiranya kita ambil kesimpulan bahwa penerbitan pers/media perlu dikelola secara profesional, tak terkecuali penerbitan berbasis kampus/lembaga pendidikan. Untuk itulah, paling tidak kita bisa membenahinya melalui (a) membuat deskripsi kerja yang jelas, terutama soal ranah keredaksian, (b) pemilihan topik-topik baru, menarik, kraetif, dan bisa dicerna oleh semua kalangan, (c) merangkul lembaga lain untuk menjadi founding. Semoga bermanfaat.(***)

Rujukan
• Leonard Mugel. 1979. Everything You Need to Know to Make It in the Magazine Business. New Jersey: Prentice Hall.
• J. Wiulliam Click and Russel N Baird. 1986. Magazine Editing and Production. Iowa: Brown Publisher.
• LE Manhua. 1986. Aspek-aspek Manajemen dalam Industri Persuratkabaran Indonesia dalam Era Informasi: Perkembangan, Permasalahan, dan Perspektifnya. Jakarta: Sinar Harapan.
• Suroso. “Keredaksian dan Pengelolaan Majalah”. Makalah dalam Pelatihan Pengelolaan Media Intern Gereja GKJ Klasis Yogyakarta Utara di GKJ Condong Catur, 2 April 2003.

Rabu, 15 Desember 2010

Trekuh media pendekatan jiti taqorub pada allah

Tarekat Awam Dan Tarekat Khos

Dalam wacana Syadziliyah ada tahap dimana, para penempuh jalan Sufi melakukan melalui dua metode:

Metode pertama melalui cara yang ditempuh khalayak awam (umum) dan ada pula yang ditempuh oleh khalayak khusus (Khos). Pandangan awam maupun Khos di sini, tidak bersifat sosiologis maupun intelektual. Tetapi bersifat spiritual. Penentuan seseorang melalui sistem Awam atau pun Khos, hanyalah bentuk penempuhan itu sendiri. Sebagaimana dalam Al-Qur’an ada istilah al-Muhibbin dan Al-Mahbubin, ada ash-Shiddiqin dan ada pula ash-Shadiqin. Konteks lain dari istilah Sufi, ada proses yang bersifat Al-Murid ada juga dengan proses Al-Murad. Jadi kategori di atas hanyalah kategori proses penempuhannya. Karena itu dibutuhkan Mursyid Kamil Mukammil untuk membimbing, masing-masing terhadap kedua proses di atas.

Dalam Al-Mafakhir, dikutip ucapan asy-Syadzily tentang kategori penempuhan di atas, beliau mengatakan secara panjang lebar:

“Perlu diketahui bahwa pengetahuan yang menurut pemiliknya dianggap terpuji, hal itu bisa dianggap gelap bagi ahli hakikat. Ahli hakikat ini adalah mereka yang yang menyelami Lautan Dzat dan kedalaman Sifat-sifat. Di sana, mereka tanpa memiliki hasrat. Dan mereka itulah kalangan elit atau Khos yang Luhur. Yaitu mereka yang menyertai martabat para Nabi dan Rasul, walau pun martabat para Nabi dan Rasul itu lebih mulia. Sebab mereka ini mempunyai bagian dari martabat itu, karena baik Nabi maupun para Rasul dari ummat ini, pasti mempunyai pewaris, dan setiap pewaris mempunyai bagian dari peninggalan warisannya. Nabi saw, bersabda, “ Para Ulama itu adalah pewaris para Nabi.” Dan tentunya para pewaris itu memiliki kedudukan yang diketahui dari yang mewariskannya, dari segi pewarisan ilmu pengetahuan dan hikmah. Namun bukan dari segi perwujudan posisi dan kondisi anugerah ruhani (al-maqam wal-haal). Sebab maqam para Nabi itu terlalu luhur untuk diraih oleh selain para Nabi sendiri, semedntara setiap pewaris mendapatkan sebagian maqam itu menurut warisan yang diterimanya. Karena Allah swt, sudah berfirman, “Niscaya benar-benar Kami utamakan sebagian Nabi atas sebagian yang lainnya”. Begitu juga Allah memberikan posisi keutamaan para wali satu sama lainnya berbeda.

Para Nabi senantiasa menyertai Pandangan Allah, dan setiap pandangan yang melimpah dari pandangan para Nabi akan tertuang menurut kadarnya.

Sementara setiap Wali memiliki muatan yang spesifik, sehingga dunia Wali terbagi menjadi dua:

Satu bagian disebut sebagai para Abdal (pengganti) bagi para Nabi Bagian kedua, adalah pengganti para Rasul.

Abdal para Nabi disebut sebagai kalangan Shalihun, sedangkan Abdal para Rasul disebut ash-Shiddiqun. Antara Shalihun dengan Shiddiqun, posisi keutamaannya sama dengan antara para Nabi dan Rasul. Maka dari mereka, dan dari mereka pula. Hanya saja diantara mereka itu adala kelompok khusus yang mendapatkan substansi materi langsung dari Rasulullah saw, yang mereka saksikan dengan pandangan keyakinan.

Tetapi jumlah kelompok sedikit, namun dalam jumlah perwujudan hakkatnya cukup banyak. Setiap Nabi dan Wali selalu bermula dari substansi Rasulullah saw,. Karena diantara para Wali itu ada yang menyaksikan dengan pandangannya, dan sebagian mereka yang ada yang tersembunyikan pandangan dan substansi materinya. Mereka malah fana’ dalam anugerah yang turun padanya dan tidak tersibukkan dengan mencari substansi materinya itu, bahkan , mereka itu tenggelam dalam anugerah ruhani (haal) sampai tidak lagi melihat kecuali hanya pada “waktunya”.

Diantara mereka ada yang terlimpahi melalui Nur Ilahi, sehingga mereka dapat memandang memalui cahaya itu, dan mengenal urusannya secara hakikat. Dan yang demikian itu merupakan karomah bagi mereka, yang tidak bisa diingkari kecuali oleh mereka yang memang mengingkari karomah para Wali. Kita semua mohon perlindungan dari keingkaran terhadap sesuatu setelah kita mengenal sesuatu itu. Mereka itu menempuh Thariqat yang tidak ditempuh oleh yang lainnya.

Sebab jalan penempuhan (Thariqat) itu ada dua. Thariqat bagi kalangan Khos, dan Thariqat bagi kalangan publik (umum). Dimaksud dengan Thariqat Khos itu, adalah jalan yang ditempuh oleh kalangan yang Dicintai Allah (al-Mahbubin), yang merupakan Abdal para Rasul. Sedangkan Thariqat Umum adalah Thariqat yang ditempuh oleh para pecinta Allah (al-Muhibbin), yaitu Abdal para Nabi. Semoga Salam Sejahtera bagi mereka semua.

Thariqat Khos adalah Thariqat yang sangat elit yang sulit dicerna akal biasa, dan langka sekali yang mampu menguraikan substansinya. Bagi Anda cukup dengan Thariqat Umum, yaitu jalan penempuhan melalui satu tahap ke tahap lainnya yang lebih luhur hingga sampai pada suatu tahap tertentu, yaitu , “tempat duduk yang benar di sisi Raja Yang Maha Berkuasa”.

Jejak pertama yang harus dtempuh oleh seorang pecinta (al-Muhibb) adalah menaiki suatu tahap ke tahap yang lebih tinggi, yaitu Nafsu. Ia tersibukkan oleh sebab akibat di sana dan bagaimana seseorang mengolah nafsunya (mengendalikannya) sampai tangga kema’rifatan, Manakala ia telah mencapai tahap ma’rifat dan meraih hakikat di sana, ia akan mendapatkan pencerahan cahaya di tahap kedua, yaitu Kalbu. Dalam tahap ini ia berada dalam kesibukan “bersiasat” dalam dunia ma’rifatnya. Manakala tidak ada lagi yang tersisa tahapannya, ia menaiki tangga ketiga, yaitu Ruh. Lalu ia bersibuk diri dengan Siasat Ruh dan kema’rifatannya. Apabila ma’rifatnya sudah sempurna maka sedikit demi sedikit mengalirlah cahaya-caha keyakinan, sampai pandangannya lupa dengan luapan-luapan cahaya itu, sampai keyakinannya benar-benar jelas, sehingga ia tidak lagi mampu berfikir terhadap pencahayaan tiga tahap yang berlalu itu. Maka disanalah ia bebas berhasrat sesuai dengan kehendak Allah . Lalu Allah melimpahkan melalui Nur Akaly yang asli dalam Nur keyakinan. Maka ia menyaksikan adanya yang dimaujudkan tanpa batas dan pangkal, jika disandarkan pada si hamba tersebut. Sehingga lenyaplah seluruh jagad ini didalamnya.

Kadang-kadang seperti tabung yang terlihat di udara melalui cahaya matahari, maka, ketika cahaya matahari itu membakar, tabung itu tidak lagi tampak bekasnya.

Matahari itu adalah akal yang lazim, yang bisa memperlihatkan obyek, setelah terpenuhi oleh materi cahaya keyakinan. Apabila seluruh cahaya itu lenyap, maka seluruh jagad itu sirna pula, dan yang ada hanyalah yang maujud ini. Kadang tampak ada, kadang sirna, sampai ketika ia menghendaki kesempurnaan, ia dipanggil oleh panggilan yang lembut, tanpa suara, yang hanya bisa difahami saja. Hanya saja yang bisa menyaksikan selain Allah, tiada sesuatu yang lain selain Allah. Maka, disitulah ia bangun dan sadar dari “mabuk”nya. Lalu bermunajat, “Oh Tuhan, tolonglah daku…., Duh Gusti, tolonglah aku…sungguh aku telah musnah…”

Dari sana ia tahu dengan seyakin-yakinnya, bahwa siapapun tidak bisa selamat dari lautan itu melainkan karena pertolongan Allah. Disaat seperti itu dikatakan padanya, “Maujud ini adalah Akal, seperti yang disabdakan Rasulullah saw, bahwa yang pertamakali diciptakan oleh Allah adalah akal.” Pada hadits lain dijelaskan, “Allah berfirman pada akal itu, ‘Menghadaplah!’ dan akal itu pun menghadap.”

Hamba ini lantas dianugerahi rasa hina dan keselamatan melalui Cahaya Maujud itu, sebab batas dan ukurannya tiada terkira, sehingga ia tak mampu mengenalnya. Dikatakan padanya, “Betapa jauhnya, batas itu tidak bisa dikenal kecuali bersama Allah.” Lantas Allah Yang Maha Agung nan Luhur memberikan petunjuk melalui Cahaya Asma’-Nya, muncullah bagai sekelebat kedipan mata, atau seperti yang dikehendaki-Nya (Kami mengangkat derajat orang yang Kami kehendaki), kemudian Allah melimpahkannya melalui Cahaya Ruh Rabbany, lalu ia pun mengenal Maujud ini. Hamba tadi naik ke medan Ruh Rabbany, tiba-tiba sirna seluruh riasan keindahan yang menyertainya, lalu secara otomatis ia tersunyikan, tinggalah segala yang ada ini menjadi Maujud. Kemudian Allah menghidupkannya melalui Cahaya Sifat-sifatNya, lalu dengan kehidupan itu Allah menaikkan ke dalam pengenalan Maujud Rabbany itu.

Ketika hamba terurai dari dasar-dasar SifatNya, hampir-hampir ia sebutkan, “Dialah Allah”. Tiba-tiba ia ditemui oleh Pertolongan Azaly, lalu muncul panggilan, “Ingatlah! Bahwa maujud itu adalah yang tiada bolh disifati oleh siapa pun, tidak boleh pula dimengerti melalui ibarat apa pun melalui Sifat-sifatNya melainkan oleh ahlinya, namun melalui cahaya lain yang mengenalnya.” Kemudian Allah melimpahkannya melalui Cahaya Sirr Ruh (rahasia batin Ruh), tiba-tiba ia sudah duduk di pintu medan Sirr.

Hasratnya mengembang untuk mengenal Maujud itu yang tidak lain adalah Sirr itu sendiri. Namun, ia telah buta untuk mengenalnya, lalu seluruh sifat-sifatnya sirna, seakan-akan tak ada sesuatu pun padanya. Kemudian Allah melimpahkan Cahaya DzatNya, dengan limpahan Kehidupan Keabadian yang tiada hingga. Semua yang diketahui memandang dengan Cahaya Kehidupan ini, lantas seluruh penghuni Maujud ini menjadi Cahaya yang memancar pada segala yang ada, tidak lagi ada yang bisa disaksikan selain Dia. Muncullah panggilan dari jarak yang sangat dekat saat itu: “Janganlah terpedaya dengan Allah, karena yang Dicintai justru dari tirai (hijab), dari Allah, beserta Allah. Sebab mustahil Allah dihijabi oleh selain Allah.” Lalu ia hidup dengan kehidupan yang dititipkan oleh Allah di dalamnya. Hamba itu lalu berkata, “Duh, Gusti….BesertaMu, DariMu, KepadaMu, betapa tak berdayanya daku. Sesungguhnya aku memohon perlindungan padaMu dariMu, sampai aku tidak melihat lagi selain DiriMu.”

Itulah jalan yang tanjakannya menuju Hadirat Allah Yang Luhur, yaitu jalan ditempuh oleh para pecinta Allah (al-Muhibbin) , sebagai para Badal Nabi.

Sedangkan yang dianugerahkan pada salah seorang dari mereka setelah itu, tak satu pun orang yang bisa mengukur atau mendeskripsikannya.

Segala Puji hanya bagi Allah, atas segala nikmat-nikmatNya, dan shalawat serta salam semoga terlimpah padaMuhammad pengunci para NabiNya.

Sedangkan Thariqat kalangan Mahbubin (mereka yang dicintai-Nya) adalah langsung dari Allah, kepada Allah. Sebab mencapai jalan ini mustahil selain dari Allah Sendiri. Pijakan pertamanya, adalah tanpa pijakan itu sendiri, untuk mendapatkan Cahaya DzatNya. Mereka ini disembunyikan dari hamba-hamba-Nya, karena ia dianugerahi rasa cinta terhadap ketersembunyian. Segala amal-amal yang shaleh sangat kecil di matanya, sementara yang terlihat besar adalah Tuhannya bumi dan langit.

Ketika dalam keadaan demikian itu, tiba-tiba mereka mendapati dirinya berpakaian baju ilmu. Lalu mereka memandang, tetapi yang tampak, mereka itu bukan mereka. Lantas ia tertimpa suatu kegelapan yang menyembunyikan pandangan mereka, bahkan wahananya menjadi wahana tiada, tanpa sebab-akibat. Seluruh aturan sebab akibat terhempas, dan seluruh yang disebut sebagai yang baru sirna tanpa sesuatu yang baru, bahkan tak ada wujud lagi. Yang jelas justru tiada lagi, kecuali hanya Ketiadaan Murni itu sendiri, tanpa sebab dan akibat. Dan segala yang tanpa sebab langsung, berarti tidak ada obyek yang bisa dikenalnya. Segala yang yang bisa diketahui telah sirna, dan segala rumus telah musnah, sirna yang tidak diketahui kenapa dan bagaimana. Yang ada hanyalah “Substansi” yang ditunjukkan, bahwa Dia tiada bisa disifati dan tiada Sifat itu sendiri, bahkan tiada lagi Dzat. Segala Predikat, Asma’ dan Sifat telah sirna, maka tiada Nama, tiada Sifat dan tiada Dzat. Maka, muncullah “Yang” senantiasa Muncul, tiada sebab-akibat. Tetapi Dia menampakkan Rasia BatinNya, bagi DzatNya di dalam DzatNya, melalui pemunculan yang tiada awalnya. Namun Dia memandang dari DzatNya, bagi DzatNya, dengan DzatNya di dalam DzatNya. Para hamba itu hidup melalui PemumunculanNya dengan kehidupan yang tiada sebab-akibat di dalamnya. Lalu tampillah dengan seluruh Sifat-sifat yang Indah, yang tiada tahu mengapa dan bagaimana.

Jadilah ia yang pertama muncul, tiada kemunculan sebelumnya. Lantas menemukan segala sesuatu bersama Sifat-sifat-Nya, kemudian muncullah cahayaNya di dalam cahayaNya.

Pertama-tama yang muncul adalah SirrNya (rahasia batin), lalu muncullah (melalaui Sirr itu) kalbuNya, lantas muncul AmarNya melalui SirrNya di dalam SirrNya. Lalu muncullah segala dzat melalaui AmarNya di dalam Cahaya al-Qalam melalui Cahaya al-Qalam. Kemudian muncullah AkalNya dengan AmarNya dalam AmarNya, dan muncullah (dengan itu ) ArasyNya di dalam Cahaya LauhNya dengan Cahaya Lauh itu sendiri. Lantas muncullah RuhNya melalui AkalNya, dan melalui RuhNya muncullah KursiNya di dalam Cahaya ArasyNya melalui Cahaya Arasy itu sendiri. Lalu muncul jiwanya melalui kalbuNya, lalu muncullah melalui jiwaNya, orbit bagi kebajikan dan keburukan di dalam Cahaya HijabNya melalui Caha Hijab itu sendiri. Lalu muncul Jisim melalui JiwaNya di dalam JiwaNya, maka muncullulah melalui Jisim itu seluruh Jisim Alam Kasar baik di bumi maupun di langit.

Kesimpulannya, setiap alam kasar berada dalam Cahaya orbit melalui Cahaya orbit. Sehingga pijakan pertamanya bagi hamba tercinta yang sunyi ini adalah membuang jiwanya pada ketiadaan, yaitu pembuangan dalam wahana tiada sebab akibat. Yaitu menghadap pada ketiadaan melalui pengguguran sifat awwaliyah, akhiriyah, dzahiriyah dan bathiniyah.

Sehingga yang terjadi adalah menghadapkan sifat ketiadaan pada ketiadaan itu sendiri. Arti sifat ketiadaan bagi ketiadaan itu adalah segala hal yang berakhir pada pangkal tiada aksioma sebab akibat. Yaitu menyaksikan Allah Ta’ala seperti tiada penyaksian yang berhubungan, tetapi tidak terpisah. Penyaksiaan yang tiada sedikitpun adanya peluang kealpaan, dimana dalil pembuktiannya tidak ada aksioma sebab akibat di dalamnya maupun baginya, yaitu penyaksian Ketiadaan Murni.

Arti dari tidak adanya pembuktian sebab akibat yaitu kelaziman tiadanya penyaksiaan terhadap makhluk-makhluk yang bisa disaksikan, kemudian secara berurutan, dari ketiadaan murni itu, yaitu Mabuk dalam Lupa yang abadi, bahkan lupa terhadap kehidupan yang ditunjukkan dalam wacana pada posisi ini.

Ternyata, jalan hamba ini adalah Jalan Luhur, atau apa yang disebut dengan terlempar ke dalam Lautan Dzat, lantas ia tiada, lalu dihidupkan dengan kehidupan yang baik, kemudian dipindahkan � tanpa harus pindah � ke Lautan Sifat, kemudian Lautan Amar Rabbany, kemudian Lautan Sirri, lalu Lautan al-Qalam yang masih asli , lantas Lautan Ruh, kemudian Lautan Kalbu, lalu Lautan Nafsu, lantas Lautan Kebajikan , kemudian ia ditemukan dengan Lautan Sirri, lalu dilempar ke Lautan Qolamiyah, lalu Lautan Lauhiyah, kemudian Lautan Arsyiyah, lantas Lautan Kursy, kemudian Lautan Hijabiyah, kemudian Lautan Falakiyah. Ia dipertemukan dengan Lautan Sirri yang meliputi, kemudian dilempar ke Lautan Malakiyah, lalu ke Lautan Abalisah (keiblisan), kemudian Lautan Jinsiyah, baru ke Lautan Unsiyah.

Disana ia bertemu dengan Lautan Sirri, lalu dilemparkan ke Lautan Syurgawi, lalu Lautan Nirani (kenerakaan), kemudian dilempar ke Lautan Ihathah (keseluruhan yang meliputi) yaitu Lautan Sirri, lalu tenggelamlah di sana dalam ketenggelaman yang tidak keluar lagi selama-lamanya kecuali atas Izin-Nya. Bila Allah menghendaki ia diutus sebagai ganti dari Rasul yang menghidupkan para hambaNya. Jika Dia berkehendak lain, Dia menutupinya. Dia bertindak sesuai dengan kehendakNya.

Setiap Lautan dari Lautan-lautan itu, meliputi berbagai Lautan di sana, dimana jika orang yang Shaleh pengganti Rasul masuk di dalam Lautan paling kecil saja dari Lautan-lautan itu, pasti ia tenggelam di dalamnya dan tidak akan selamat lagi (mentas).

Semua itu merupakan gambaran Thariqat Umum dan Khusus. Hanya Allah Sendiri yang Terpuji.
Proyeksi yang dijadikan ilustrasi di atas sekaligus menggambarkan bagaimana tahapan spiritual, namun sekaligus juga maqam dan haal ruhani para Sufi. Lebih dari itu menggambarkan peta dunia metafisis dan struktur Wujud itu sendiri dalam perspektif teosofis.

Rabu, 08 Desember 2010

Ngelu torekoh metode pendekatan pada Allah

Hawya pegat ngudiya Ronging budyayu
Margane suka basuki
Dimen luwar kang kinayun
Kalising panggawe sisip
Ingkang Taberi prihatos
Janganlah berhenti, selalu berusaha berbuat kebajikan,
agar mendapat kegembiraan, keselamatan,
tercapai segala cita-cita, dan terhindar dari perbuatan yang bukan-bukan
Sedang caranya haruslah dengan gemar prihatin.
Kerajaannya adalah Surakarta......Ia adalah pengamal tarekat Naqshbandhi, yang pola lakunya menggunakan dzikir sirri ism dzat pada ketujuh titik lathaif......

Oleh karena itu dalam kebanyakan spiritualitas Jawa ada pepatah yang mengatakan
Rasa iku anane neng ati (qolb )
Sak njerone rasa ono rasa sejati (ruuhi)
Sak njero rasa sejati ono sejatining roso (sirri)
Sak njero sejatining roso ono roso sejatining roso (khafa)
Sak njerone roso sejatining roso ono azimat (akhfa/azimat)

Ajaran ini adalah ajaran tasawuf yang di-Jawakan....

Juga sering pula dikatakan golekana sejatining jowo, jowo sejati.....

Jowo sejati dan sejatining jowo tidak lain adalah sejatinya manusia atau jati diri orang Jawa.....

Kalao dalam ajaran spiritual Jawa ada pula :

Sugih tanpo bondho
Nglurug tanpo bolo
Menang tanpo ngasorake
Dhigdhoyo tanpo ajimat (azimat)

Azimat inilah adalah Cahaya di atas Cahaya yang berada dalam qolbu manusia, dan Cahaya di atas Cahaya (Nuur di atas Nuur) adalah Nuur Muhammad (dalam islam). Barangsiapa telah mendapatkan ajimat sejati ini, dia tidak membutuhkan kesaktian apa-apa, karena Nuur ini telah ada sejak sebelum Adam diciptakan.....

"Wahai Rasulullah, sejak kapa Engkau menjadi Rasul ?"....."Sejak Adam berada diantara ruuh dan jasadnya aku telah menjadi Rasul (Nuur)." Karena kalau kita memahami Esensi Muhammad (Haqeqatul Muhammadiyyah), maka sebenarnya kita tidak usah membabi buta membabat agama lain dan kebatinan Jawa, karena sebenarnya Kebatinan Jawa juga mencapai Nuur di atas Nuur tersebut melalui sufi-sufi yang kemudian dikenal sebagai ahli gnostik, ma'rifat dsb
llahLaku prihatin sebenarnya merupakan derivat dari laku spiritual yang universal......

Namun, di Jawa sebagian besar adalah dari para sufi-mursyid Jawa.....seperti halnya Ronggowarsito

Ada banyak pola laku, namun kesemuanya tidak lain dan tidak bukan adalah mengasah hati agar sampai pada derajat keterjagaan spiritual.....

Pemahaman keterjagaan spiritual ini sangat penting, terutama agar orang bisa memahami ayat-ayat kehidupan dalam realitas yang kita lihat.....

Semua yang kita lihat di luar (persepsi yang kita lihat) akan suatu kejadian akan sangat bergantung pada tingkat persepsi kita dalam memahami realitas....

Misalnya, jin itu memang ada sebagai makhluk subtle, makhluk halus, namun hanya orang yang bisa melihat dalam ranah energilah yang bisa melihat kemaujudannya....Udah barang tentu bentuk visualisasinya bisa sama ataupun beda antara satu dengan yang lain.......Kemampuan ini disebut ESP (Extra Sensory Perception) atau persepsi sensor ekstra atau disebut juga indera keenam......

Hal inilah yang menjadi alasan perbedaan para paranormal dalam melihat realitas jin.....

Namun perlu untuk diingat, diatas realitas subtle atau halus atau energi, terdapat realitas yang lebih tinggi lagi, yaitu ranah alam malaikat atau jabaruut (dalam bahasa Arab)....Nah untuk melihat realm ini harus menggunakan indera yang lebih halus lagi, yaitu indera sirri atau kalau dalam tingkatan qolbi adalah rasa sejatining rasa......Yang dalam istilah Syaikh Haqqani dalam situs nurmuhammad.com disebut sebagai HSP (High Sensory Perception) yang tingkatannya bisa lebih halus dibandingkan ESP yang "hanya" merupakan "bonus" dari kelima indera......

Sering sekali orang awam tidak memahami hal itu sehingga orang yang masih dalam tingkatan ESP sudah spiritualis, inilah yang sering mengakibatkan muculnya perawan hamil karena dukun, kyai gadungan dan lain sebagainya.....

Biasanya orang yang sudah bisa melihat dengan HSP biasanya tidak pernah koar-koar, bahkan malah menjalani kehidupan normal seperti manusia yang lain.....Misalnya seorang Direktur Utama di sebuah perusahaan bisa memiliki HSP karena derajat keimanannya kepada Tuhan......Meski ia tahu semua kebusukan orang di sekitarnya, namun ia tetap diam saja karena sesungguhnya kebusukuna-kebusukan itu merupakan realitas-realitas ujian baginya.......

Disinilah sang Direktur itu menjalankan TOPO NGRAME, yaitu bertapa atau laku spiritual dalam kehidupan ini dalam kondisi/di tengah keramaian.......

AKhirul Kalam, kesemua hal yang kita lakukan sebenarnya adalah laku spiritual itu sendiri menuju keterjagaan spiritual.....
Keluarlah dari duniamu, karena duniamu adalah belenggu dan penjara....bagi orang beriman, dunia adalah penjara......Keluarlah dari persepsi-persepsimu mengenai dunia dan dunia yang ada dalam diri kamu, karena dunia itu hanyalah ciptaanmu sahaja....Tempat kembali adalah Allah, Yang Maha Pencipta, yang menciptakan segala pencipta dunia dan pencipta dunia-dunia itu adalah manusia......

Keluarlah dari fikiranmu, karena fikiran itu adalah setan yang menghalangi engkau untuk melihat Allah.....Namun gunakanlah ‘aql dan ‘ilm dalam hidup dan dalam mencapai ma’rifat, karena seorang sufi pernah mengatakan bahwasanya, “Ma’rifat hanya dapat dicapai melalui qolb, syaratnya adalah ‘aql”........

Dunia hanyalah permainan dan sendau gurau belaka, gojek, dolanan, karena ga ada bedanya dengan permainan ilusi dan sulapan......Dunia itu yang menciptakan adalah diri kamu sendiri melalui permainan........DUNYA, Dal-Nun-Ya, Dal adalah Dhairah atau lingkaran, Nuun adalah Nuur atau Cahaya, Ya adalah Pengetahuan/Keyakinan....Suatu tempat dimana manusia mencari Cahaya Keyakinan dalam lingkaran yang berputar melingkar, tidak ada awal-tidak ada akhir....Dan hanya manusialah yang mengakhirinya....

Dunia bukanlah masalah disana, disebelah kanan maupun diluar, namun dunia itu terletak dalam persepsi kita dalam melihat apa yang kita lihat......Realitas yang kita lihat itulah dunia, maka keluarlah dari dunia menuju Realitas yang sebenarnya dengan tetap melihat dan berperan dalam apa yang seharusnya engkau lakukan......

“Laa illaha ilallahu”, Tiada realitas selain Realitas

Terdapat sebuah pepatah yang mengatakan, ada empat hal yang tidak akan pernah bisa ditarik kembali :
(1) Batu, setelah ia dilempar (Momen Ruang-gravitasi bumi, momen Ruang-lemparan kita dalam Ruang-Waktu)
(2) Kata, setelah ia terucap (Ether)
(3) Kesempatan, setelah ia hilang (Momen dalam Waktu)
(4) Waktu, setelah ia berlalu (Waktu)

Demi waktu, seseungguhnya orang itu merugi, kecuali orang yang beramal sholeh. Kesemua tergantung kepada waktu, karena waktu tak akan pernah kembali. Apapun yang telah lalu hanya menjadi memori bagi kita, seraya kita memohon kepada Yang Kuasa kita memohon ampun kepada-Nya akan kesalahan kita di masa lalu. Tuhan itu Maha Pengampun, ia Maha Pengasih lagi Penyayang.

Tidak seperti waktu yang telah Ia ciptakan dimana di dalamnya terdapat momen-momen yang telah diaturnya sedemikian rupa agar kita memahami kapan bergerak dan tidak bergerak, kapan berkata dan tidak berkata. Di alam duniawiah, semua memiliki konsekuensi, dan konsekuensi-konsekuensi akan mempengaruhi takdir kita.

Sayyidina Ali ibn Abi Thalib perah berkata, “Kita bergerak dari satu takdir ke takdir yang lain”. Ia berkata pula, “Di dalam diri manusia terdapat semesta yang digulung”. Di dalam diri kita terdapat semesta yang digulung, dimana di dalam diri kitapun terdapat semesta beserta persepsi kita akan semesta tersebut yang menghasilkan dunia kita....Ya, dunia dalam diri kita dari mana kita melihat semesta ini. Waktu dalam semesta telah diatur oleh Allah melalui Qodar-Nya, ia memberi dan menarik sesuai dengan siklus yang telah ia buat di dalam alam semesta itu. Ia Maha Adil atas semua kesempatan yang diberikan-Nya kepada manusia dan makhluk-makhluk-Nya. Namun, kita sedirilah yang tidak adil kepada diri kita sendiri, karena persepsi yang kita buat dalam semesta kita. Allah telah mengatur siklus rizki, telah mengatur siklus waktu agar kita berfikir tentangnya.
Waktu, momen, kata, dan gerak tidak akan pernah kembali, oleh karena itu bagaimana kita menggunakan keempatnya dalam semesta yang senantiasa berputar pada porosnya inilah tergantung pada bagaimana kita melihat, mendengar, merasa, membau dan menyentuh obyek wujud.

Waktu aku berusia lima tahun, aku pernah bertanya pada orang yang lebih tua daripadaku, namun ia tidak menjawab, namun mengalihkan pertanyaanku. Aku bertanya, “Siapakah yang mencipta mobil dan pesawat, Tuhan atau manusia ?”. Pertanyaan yang nampak sepele dan orang dewasa sering sekali melewatkan pertanyaan ini, karena kalau dikatakan Tuhan yang membuat dimanakah Tuhan, kalau dikatakan manusia yang membuat karena emang secara fisik manusia yang membuat.....

Tuhan telah menetapkan semua Qodar akan yang ada di langit dan bumi, apa yang ada dalam semesta ini, namun apakah benar takdir itu ditangan Tuhan ? Ataukah lebih tepatnya Qodar atau kadarlah yang ditangan Tuhan, namun karena manusia memiliki irodah dan bisa memiliki qudrah dalam kodratnya sebagai manusia atas idzin dari Tuhan melalui mekanisme semesta yanng juga diciptakan oleh Tuhan dalam cetak biru semesta, maka dapat dikatakan bahwa takdir itu ditangan Tuhan dan bukan di tangan Tuhan, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Arabi. Dan begitulah barangkali yang dimaksudkan oleh Sayidina Ali Karamallahu Wajhah, “kita bergerak dari satu takdir ke takdir yang lain”, namun atas idzin-Nya.

Sering sekali kita menyalahkan takdir atau mengatakan bahwa musibah itu ditangan Tuhan, namun sebenarnya Tuhanpun pernah berfirman, bahwasanya musibah itu tidak lain adalah karena kesalahan manusia itu sendiri. Dalam kehidupan ini kita disuruh berfikir secara melingkar mengenai segala sesuatu. Inilah yang kemudian kami sebut sebagai berfikir secara metakognitif......

Barangkali berbagai takdir-takdir buruk yang dialami oleh bangsa ini, juga karena kesalahan diri kita sendiri, dimana kecenderungan kesalahan itu sendiri berasal dari kecenderungan manusia serta dunia-dunia yang ia ciptakan di dalam dirinya....
Seperti konyolnya orang awam dalam menunggu Sang Ratu Adil untuk menyelamatkan bangsa kita dari takdir-takdir buruk...Bodoh dan tolol, karena membayangkan bahwa Ratu Adil itu terletak pada satu orang saja, dan lebih pada aspek personal......Nampaknya dunia-dunia yang tercipta dalam alam bawah sadar manusia selama ribuan tahun berkelindan dengan alam bawah sadar alam modern sehingga terciptalah harapan-harapan yang ( lebih kurang) tidak realistis.

Ketika jagad manusia berada dalam sistem kerajaan, dimana semua orang takluk pada raja dan rakyat hanya pasrah, orang bisa mengharapkan Ratu Adil berupa person atau manusia yang menggerakkan. Namun dalam kondisi dunia masyarakat yang berada dalam kondisi percaya-tidak percaya terhadap hal-hal mistis, apakah benar Sang Ratu Adil keluar dalam bentuk persona........Apakah Qodar Allah berubah, antara jaman dahulu dengan jaman sekarang ?

Cetak Biru Allah terhadap semesta itu berada di atas kemampuan logika formal manusia, Ia tidak berubah, namun manusialah yang memiliki sudut pandang yang berubah antara dulu-sekarang-masa yang akan datang. Hal itu mengakibatkan “Wahyu Ratu Adil” tersebut berubah bentuk, dari Persona kepada Ide, karena sebenarnya sang raja pada suatu wilayah “hanya” menjalankan perannya sebagai tempat keberadaan Ide hal inilah yang disebut sebagai WAHYU atau PULUNG. Keterbatasan manusia dalam memahami itu dijembatani oleh aspek persona dalam menerangkan suatu Ide, termasuk di dalamnya adalah Ide mengenai Sang Ratu Adil. Mungkin apabila ranah nusantara ini masih dipimpin oleh raja dengan raja sebagai wadah bagi suatu Ide yang kemudian memunculkan kultus persona, mungkin Tuhan melalui mekanisme semesta ini mengutarakan Ide Ratu Adil melalui someone. Tapi dengan syarat, kita bisa memutar jarum jam dan meletakkan kita kepada tradisi masa lampau penghimpun sistem masyarakat, yaitu adanya raja dan bentuk kerajaan. Esensi dari Ratu Adil tidak berubah, namun eksistensi-nya berubah......Kecuali kita bisa meluruskan sistem kognisi dan metakognisi serta membersihkan alam bawah sadar kognitif bangsa ini, maka bangsa ini tidak pernah akan melihat segala sesuatu secara jernih. Karena kejernihan dalam melihat dapat mempengaruhi bagaimana ia melihat dunia, bagaimana ia melihat dunia akan membentuk dunia di dalam manusia itu, dunia dalam manusia itu akan mempengaruhi apa yang keluar dari orang itu. Dan itulah takdirnya, karena kita bergerak dari satu takdir ke takdir yang lain, namun untuk melakukan itu, kita juga harus bisa menggeser dunia-dunia dalam manusia Nusantara, sehingga apapun yang keluar dari dunianya bisa memakmurkan bumi Indonesia.....

RATU ADIL ITU ADANYA YA.....DALAM DIRI KITA SENDIRI INI.....BUKAN MASALAH DI DIA ATAU DI MEREKA, NAMUN DI DALAM DIRI KITA MASING-MASING, NAMUN BISAKAH MENEMUKAN RATU ADIL ITU, DAN BISAKAH KITA MENERJEMAHKAN DAN MEMANCARKAN KE BUMI INI ????......ITULAH YANG MENJADI MASALAH
Orang Jawa sering mempertukarkan Kalam dan Qolam, sebagaimana dalam peristilahan yang dinisbatkan kepada Pena Penunjuk Sunan Giri atau disebut dengan Kalan Munyeng yang diartikan sebagai pena berputar. Kalau memang benar Kalam Munyeng dimaknai sebagai pena yang berputar seyogyanya diganti dengan istilah Qolam-Munyeng....
Mengacu pada ayat Al-Qur'an Surah Al-Qolam : 1
Nuun wa qolami wa maa yashturuun....."Nuun (dawat tempat tinta) dan Pena dan apa yang mereka tulis".....

Tulisan kejadian semesta, kejadian-kejadian, ayat-ayat hidup atau apapun merupakan hasil tulisan Pena di atas lembaran Lauh Mahfuzh, dimana Allah hanya mengucap "Qun", jadilah maka jadilah segala sesuatu.....


BLOG Kalam-Munyeng tidak akan berkutat makna sastra namun lebih banyak sebagai sharing ide mengenai kehidupan dan makna kehidupan.....

Mudah-mudahan kita semua bisa sharing mengenai hidup dan kehidupan, diantara gegap gempita tuntutan duniawi, pada malam hari sering kita merenung mengenai segalanya.....

Pada saat itulah, sebenarnya kita samar-samar mulai melihat Hasil Tulisan Pena dalam lembaran-lembaran dibalik realitas kehidupan.....

Marilah melihat kehidupan ini, dibalik profesi-profesi kita, dibalik semua suka dan duka kita, dibalik kesemua kejadian-kejadian di sekitar kita, cinta dan benci kita dalam melihat kejadian.....

"Iqra bismi Rabbikalladzi khalaq, khalaqal insaana min alaq".....

"Bacalah dengan nama Tuhanmu yang mencipta, yang menciptakan kamu dari segumpal darah "
Mari kita baca dan renungi kehidupan ini bersama-sama......

Keluar dari keterkotak-kotakan duniawiah, dan kembali kepada keheningan, karena dalam keheningan ini kita bisa melihat segala ciptaan dengan jernih dan dalam kejernihan itu kita melihat Wajah Tuhan....."Inni wajahtu wajhiyya lilladzi fatarrasamawati wal 'ardl"

Hanya kepada Wajah Tuhanlah kita memandang, Tuhan Sang Pencipta Langit dan Bumi"......

Kaum bangsawan di Belanda menjulukinya Pangeran dari Tanah Jawa. Raden Mas Panji Sosrokartono, kakak R.A. Kartini, selama 29 tahun, sejak 1897, mengembara ke Eropa. Ia bergaul dengan kalangan intelektual dan bangsawan di sana. Mahasiswa Universitas Leiden itu kemudian menjadi wartawan perang Indonesia pertama pada Perang Dunia I.

Sosrokartono (1877-1952) adalah adik kandung Boesono. Keduanya adalah kakak RA Kartini, pahlawan emansipasi wanita yang setiap tanggal 21 April selalu dirayakan di seluruh pelosok Indonesia. Mereka adalah anak Bupati Jepara Raden Mas Adipati Ario Samingoen Sosroningrat untuk periode 1880-1905 dari perkawinannya dengan Ngasirah. Pasangan ini memiliki delapan anak.

Sosrokartono sering berpuasa. Jika tak berpuasa, ia jarang makan. Meski separuh lumpuh, ia masih menerima ratusan tamu yang datang dengan berbagai kepentingan, mulai dari sekadar meminta nasihat, belajar bahasa asing, hingga mengobati berbagai macam penyakit.

Pada setiap pengobatan, Kartono biasanya memberikan air putih dan secarik kertas bertulisan huruf Alif kepada pasien. Nasihat Eyang Sosro antara lain “Sugih tanpa banda / Digdaya tanpa aji / Nglurug tanpa bala / Menang tanpa ngasorake” (Kaya tanpa harta/ Sakti tanpa azimat/ Menyerbu tanpa pasukan/ Menang tanpa merendahkan yang dikalahkan).

Selama 29 tahun, Sosrokartono lebih dikenal sebagai seorang intelektual yang disegani di Eropa. Ia kerap dipanggil dengan sebutan De Javanese Prins (Pangeran dari Tanah Jawa) atau De Mooie Sos (Sos yang Tampan). Ia mengembara ke beberapa negara, kemudian menjadi wartawan perang. Ia juga pernah menjadi staf Kedutaan Besar Prancis di Den Haag, bahkan sempat menjadi penerjemah untuk Liga Bangsa-Bangsa.

Setelah melanglang Eropa sejak 1897, pangeran tampan dari tanah Jawa itu pun pulang. Ia ingin mendirikan sekolah sebagaimana dicita-citakan mendiang adiknya, Kartini. Ia juga ingin mendirikan perpustakaan.

Kartono kemudian menggalang dukungan dari kelompok pergerakan di Indonesia. Ia menemui Ki Hajar Dewantara. Bapak pendidikan itu lalu mempersilakan Kartono membangun perpustakaan di gedung Taman Siswa Bandung. Ia pun diangkat menjadi kepala Sekolah Menengah Nasional di kota ini.

Pada saat yang bersamaan, ia menyaksikan orang-orang kelaparan dan diserang berbagai macam penyakit. Kartono pun kemudian menjalankan laku puasa bertahun-tahun untuk merasakan apa yang juga diderita saudara-saudaranya. Ia juga menjadikan Darussalam sebagai rumah pengobatan.

Separuh badan Kartono lumpuh sejak 1942. Kartono mangkat pada 1952, tanpa meninggalkan istri dan anak. Ia dimakamkan di Sedo Mukti, Desa Kaliputu, Kudus, Jawa Tengah. Di sebelah kiri makam Kartono terdapat makam ibunya Nyai Ngasirah dan bapaknya RMA Sosroningrat.

Di dinding pagar besi di makam Kartono, terpasang tulisan huruf Alif dalam bingkai kaca seukuran 10R. Di bawahnya terdapat foto Kartono mengenakan setelan jas ala orang Barat. Di nisan sebelah kiri, tercantum kata- kata terpilih Kartono: Sugih tanpa banda, digdaya tanpa aji. Di nisan sebelah kanan tercantum kalimat: Trimah mawi pasrah(rela menyerah terhadap keadaan yang telah terjadi), suwung pamrih tebih ajrih (jika tak berniat jahat, tidak perlu takut), langgeng tan ana susah tan ana bungah (tetap tenang, tidak kenal duka maupun suka), anteng manteng sugeng jeneng (diam sungguh-sungguh, maka akan selamat sentosa).

Dalam beberapa tulisannya yang berisikan nasehat hidup, dia sering menggunakan nama Mandor Klungsu (Mandor Biji Asam Jawa) atau Joko Pring. Nama yang terakhir mungkin menunjukkan bahwa dia tidak menikah. Laku puasa, berdiam diri di ruang khusus, atau berdiri berjam-jam di malam hari merupakan wajah mistik RMP. Sosrokartono. Sampai sekarang masih banyak yang meneladani laku dan sikap hidup Pangeran dari Tanah Jawa ini. Bahkan ada yang mendirikan Yayasan Sosrokartono, untuk mengenang dan mendedikasikan gerakannya untuk Pribadi yang mulia ini
Nasihat Eyang Sosrokartono antara lain “Sugih tanpa banda / Digdaya tanpa aji / Nglurug tanpa bala / Menang tanpa ngasorake” (Kaya tanpa harta/ Sakti tanpa azimat/ Menyerbu tanpa pasukan/ Menang tanpa merendahkan yang dikalahkan).

Trimah mawi pasrah (rela menyerah terhadap keadaan yang telah terjadi), suwung pamrih tebih ajrih (jika tak berniat jahat, tidak perlu takut), langgeng tan ana susah tan ana bungah (tetap tenang, tidak kenal duka maupun suka), anteng manteng sugeng jeneng (diam sungguh-sungguh, maka akan selamat sentosa)